Sungai Batanghari adalah saksi bisu perjalanan sejarah Jambi, mulai dari masa kejayaan Kerajaan Melayu hingga pusat perdagangan penting di masa kolonial. Sebagai sungai terpanjang di Sumatra, Batanghari adalah denyut nadi utama yang mengairi ribuan hektar lahan dan menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di sepanjang alirannya. Namun, tantangan zaman modern seperti pencemaran dan sedimentasi mulai mengancam eksistensinya. Untuk membangkitkan kembali kepedulian publik, Festival Batanghari diselenggarakan dengan kemasan yang lebih segar. PRSI Jambi mengambil peran sentral dalam festival ini dengan mengusung misi besar: mengajak generasi muda untuk kembali mencintai dan menjaga sungai melalui jalur olahraga air.
Keterlibatan PRSI dalam agenda tahunan ini bertujuan untuk mengubah stigma bahwa sungai adalah tempat yang kotor atau berbahaya. Melalui berbagai perlombaan seperti renang sungai dan eksibisi penyelamatan air, PRSI ingin menunjukkan bahwa dengan pengelolaan yang benar, Batanghari bisa menjadi sarana olahraga dan rekreasi yang menyenangkan. Generasi muda, yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan teknologi digital, diajak untuk turun langsung ke air dan merasakan koneksi fisik dengan alam. Pengalaman menyentuh air sungai secara langsung diharapkan dapat menumbuhkan empati yang lebih dalam dibandingkan hanya sekadar membaca kampanye lingkungan di media sosial.
Fokus utama dari ajakan ini adalah pembentukan karakter yang cinta akan lingkungan sejak dini. PRSI Jambi menyadari bahwa anak muda adalah pemegang kunci masa depan sungai ini. Dalam rangkaian festival, diadakan sesi edukasi mengenai ekologi sungai, di mana para atlet dan pelatih memberikan simulasi sederhana tentang bagaimana sampah plastik dapat merusak ekosistem air. Dengan melihat atlet-atlet yang mereka kagumi sangat menghormati sungai, anak-anak muda ini akan cenderung meniru perilaku tersebut. Sungai tidak lagi dipandang sebagai “halaman belakang” tempat membuang limbah, melainkan “halaman depan” yang harus dipamerkan keindahannya kepada dunia.
Secara teknis, pemanfaatan sungai untuk kegiatan olahraga juga mendorong pemerintah daerah untuk lebih serius dalam menangani isu pencemaran. Agar kompetisi renang dapat berjalan aman, kualitas air harus dipantau secara berkala. Hal ini secara tidak langsung memaksa adanya perbaikan tata kelola lingkungan di sepanjang aliran sungai. PRSI Jambi terus mendorong agar kegiatan di Batanghari tidak hanya berhenti pada saat festival saja, tetapi menjadi aktivitas rutin yang terintegrasi dengan kurikulum olahraga di sekolah-sekolah sekitar. Jika anak-anak muda mahir berenang di sungai, mereka akan menjadi penjaga alami yang akan memprotes jika ada pihak yang mencoba merusak rumah kedua mereka tersebut.
