Sungai Batanghari bagi masyarakat Jambi adalah urat nadi kehidupan, namun bagi para perenang, sungai ini adalah arena latihan yang sangat menantang dan unik. Karakteristik airnya yang membawa sedimen tanah membuat air sungai sering kali berwarna cokelat pekat. Fenomena lumpur Batanghari ini menciptakan kondisi yang ekstrem bagi para atlet renang perairan terbuka, di mana mereka harus terbiasa berenang dengan kondisi penglihatan yang sangat terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali. Berlatih di lingkungan seperti ini membutuhkan mentalitas yang berbeda dibandingkan berenang di kolam renang yang jernih dan steril.
Kondisi jarak pandang air nol persen menuntut para atlet untuk tidak lagi mengandalkan indra penglihatan sebagai navigasi utama. Di sinilah perenang Jambi mengembangkan insting yang sangat tajam terhadap arus dan arah gerak air. Mereka belajar untuk “merasakan” tekanan air pada ujung jari dan telapak tangan mereka untuk memastikan bahwa tarikan tangan mereka tetap efisien. Tanpa adanya garis hitam di dasar seperti pada kolam renang, mereka harus mampu menjaga arah renang agar tetap lurus dengan menggunakan titik koordinat di daratan atau dengan merasakan arah sinar matahari yang menembus permukaan air yang keruh.
Secara teknis, berenang di air berlumpur memerlukan adaptasi pada pola pernapasan. Partikel lumpur yang halus dapat mengganggu kenyamanan jika masuk ke dalam mulut atau hidung. Oleh karena itu, para atlet dilatih menggunakan teknik khusus dalam melakukan pengambilan napas yang lebih tinggi dan singkat untuk meminimalisir risiko terminumnya air sungai. Selain itu, penggunaan perlengkapan seperti kacamata renang sering kali menjadi tidak berguna secara fungsi penglihatan, namun tetap dipakai sebagai pelindung mata dari iritasi akibat partikel sedimen yang tajam. Ketajaman indra peraba dan pendengaran menjadi kunci untuk mendeteksi keberadaan perenang lain atau rintangan di sekitar mereka.
Latihan di Sungai Batanghari juga memberikan keuntungan fisik yang tidak didapatkan di tempat lain. Densitas air yang lebih tinggi karena kandungan lumpur memberikan hambatan yang lebih besar bagi tubuh perenang. Hal ini secara tidak langsung melatih kekuatan otot lengan dan kaki secara lebih intensif. Ketika para perenang ini berpindah ke kolam renang biasa yang airnya lebih ringan, mereka sering kali merasa memiliki tenaga tambahan dan kecepatan yang lebih baik. Inilah alasan mengapa banyak atlet dari daerah Jambi memiliki daya tahan dan kekuatan tarikan yang luar biasa dalam kompetisi tingkat nasional.
