Olahraga renang tidak hanya mengandalkan daya tahan kardiovaskular, tetapi juga kemampuan otak untuk tetap berfungsi optimal dalam kondisi kadar oksigen yang fluktuatif. Fenomena Oksigenasi Otak menjadi topik riset dan pelatihan yang menarik bagi PRSI Jambi dalam beberapa tahun terakhir. Latihan menahan napas yang terkontrol atau latihan hipoksik telah lama digunakan untuk meningkatkan kapasitas paru-paru, namun dampak yang lebih dalam sebenarnya terletak pada bagaimana otak beradaptasi dengan keterbatasan suplai oksigen sesaat sambil tetap mempertahankan fokus teknis yang tinggi di bawah tekanan kompetisi.
Studi mengenai Dampak Latihan Menahan Napas menunjukkan bahwa saat seorang perenang berada di bawah air (misalnya saat melakukan underwater kick setelah start), otak harus mengelola distribusi oksigen secara sangat selektif. Di Jambi, para atlet dilatih untuk menghadapi kondisi ini tanpa rasa panik. Ketika kadar karbon dioksida meningkat dan oksigen menurun, respon alami manusia adalah segera mengambil napas. Namun, atlet yang terlatih mampu menekan refleks tersebut dan tetap fokus pada efisiensi gerakan. Kemampuan ini bukan sekadar fisik, melainkan bentuk pelatihan saraf yang mengajarkan otak untuk tetap tenang dan tajam meski dalam keadaan stres fisiologis.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan Terhadap Fokus atlet saat mereka berada pada fase krusial dalam perlombaan. Di PRSI Jambi, sering terlihat latihan di mana atlet harus menyelesaikan jarak tertentu dengan jumlah napas yang dibatasi. Latihan ini memaksa otak untuk meningkatkan efisiensi penggunaan oksigen yang tersedia. Hasilnya, atlet menjadi lebih waspada dan mampu mengambil keputusan taktis yang cepat, seperti kapan harus melakukan sprint akhir, tanpa terganggu oleh rasa sesak yang berlebihan. Fokus yang stabil ini sangat penting terutama di nomor-nomor pendek di mana kesalahan satu detik saja bisa berakibat fatal pada hasil akhir.
Kekuatan mental dan fisik yang dibangun di Jambi melalui program oksigenasi ini juga berdampak pada proses pemulihan. Otak yang sudah terbiasa dengan fluktuasi oksigen yang ekstrem akan lebih cepat kembali ke kondisi homeostasis (seimbang) setelah latihan berakhir. Hal ini memastikan bahwa para atlet tidak mengalami kelelahan mental yang berkepanjangan setelah sesi latihan yang berat. Penekanan pada aspek sains respirasi ini telah menjadikan program latihan di Jambi lebih modern dan terukur, menjauhi metode latihan konvensional yang hanya mengedepankan volume jarak tanpa memperhatikan kualitas fungsi neurologis dan sirkulasi oksigen ke otak.
